Segel Sekolah Karena Tak Diangkat Jadi PNS

BANGKALAN| SURYA Online- Tiga ruang kelas SDN Pataonan IV, Desa Pataonan, Kecamatan Socah, Bangkalan, Jawa Timur, Senin (27/02/2012) disegel oleh warga. Penyegelan itu dilakukan Mustamar (40), selaku pemilik lahan. Penyebabnya, ia kesal dengan Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang tak kunjung mengangkat dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia sempat dijanjikan menjadi PNS sebelum gedung sekolah itu dibangun.

Penyegelan itu dilakukan Mustamar pagi-pagi, sebelum guru dan siswa datang ke sekolah. Pintu ruangan tiga kelas tersebut dipalang menggunakan kayu, dan tidak ada seorangpun yang berani membuka segel tersebut. Termasuk kepala sekolahnya.

“Pemerintah hanya omong saja. Janjinya sebelum gedung ini dibangun saya akan diangkat jadi PNS. Tapi kenyataanya sudah bertahun-tahun janji itu tak pernah ada kejelasan hingga sekarang,” kata Mustamar, dengan nada kesal.

Penyegelan tiga ruang kelas itu tidak membuat kegiatan belajar berhenti. Kepala Sekolah, Sri Kartiningsih, mengajak siswa-siswinya belajar di Balai Desa setempat, yang jaraknya hanya 500 meter. “Anak-anak harus tetap belajar meskipun kelasnya disegel warga, dan kami sudah menemukan tempat alternatif di Balai Desa,” terangnya.

Sementara untuk ruang kelas IV sampai kelas VI dan satu kantor tidak disegel. Sebab lahan yang ditempati sudah resmi milik Pemerintah. Kejadian itu langsung dilaporkan kepada Kepala Unit Pelaksana Tekhnis Daerah Dinas Pendidikan Socah. Menurut Sri Kartiningsih, sengketa tanah tersebut dirinya sejak awal tidak tahu.

Cuma, informasinya pemilik lahan yang ditempati sekolah itu menuntut janji pada Pemerintah untuk diangkat menjadi PNS. “Kami berharap persoalan ini tidak berlarut-larut yang bisa mengganggu konsentrasi proses belajar di sekolah ini,” ungkapnya.

Dikonfirmasi sejumlah wartawan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Moh. Mohni menuturkan, kasus tersebut sudah berjalan sejak dua tahun yang lalu. Pihaknya juga mengakui kalau tiga lokal kelas dibangun di atas tanah milik warga dan hingga kini belum ada penyelesaiannya. “Pemilik lahan tidak mau diberi ganti rugi tanah, malah minta kompensasi di luar nalar kami dengan meminta di angkat jadi PNS,” ujarnya.

Dalam minggu ini, pihaknya akan segera memanggil pihak terkait meliputi Kepala Desa Pataonan, Kepala UPTD Disdik Socah, Camat Socah dan kepala sekolahnya, untuk mencari solusi terbaik. Namun, pihaknya memiliki opsi agar sekolah tersebut untuk digrouping dengan sekolah terdekat. Sebab jumlah muridnya hanya 105 siswa. “Mengingat jumlah muridnya tidak sampai 125 siswa, nanti akan digrouping saja,” tegasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s