ABG Cantik Ditemukan Tewas Telanjang Di Kebun Pisang Pancoran Mas Depok Setelah Diantar Timer Supir Angkot

Kasus pembunungan Anak Baru Gede (ABG) di Depok menemui titik terang, Senin (9/1). Gadis jebolan kelas 2 SMP itu dihabisi usai kongkow di Cibinong, Kab. Bogor. Kini, polisi mencari-cari seorang timer angkutan umum yang mengantarnya pulang. Jasad yang ditemukan mengenaskan di kebun pisang di Pancoran Mas, Depok, itu adalah Dwi Julianti alias Debi, 16. Perempuan semata wayang dari tiga anak Sarwani, 42, dan Zaimunah, 40, itu sehari-hari tinggal bersama neneknya di Kp. Kelapa, Rawapanjang, Bojong Gede. Ia juga bekerja di sebuah kafe di Citayem.

Sebelumnya diberitakan (Pos Kota, 9/1), jasad Debi ditemukan Niman alias Ucok pada Minggu (8/1) sekitar Pk. 14:00 di kebun pisang Jl. Mangga, Pancoran Mas, Depok. Jenazah yang hanya mengenakan kaos lengan panjang bergaris hitam putih itu posisinya terlentang dengan kedua kaki merenggang. Bra, celana dalam, sepasang sandal merah bergambar kupu-kupu serta sandal putih bertulisan Hotel Puri Residence ditemukan tak jauh dari jasad yang wajahnya penuh luka itu.

Ayah korban, keluarga dan sejumlah teman korban dimintai keterangan polisi. Data yang dihimpun dari Polda Metro Jaya menyebutkan pada Sabtu (7/1) malam hingga dinihari, Dwi bersama teman pria dan wanitanya kongkow di Jalan Baru tak jauh dari Pemda Cibinong, Kab. Bogor. Sambil ngobrol, anak-anak muda itu juga menenggak minuman keras.

Sekitar Pk. 04:30, Dwi ingin pulang. Seorang timer angkutan umum yang biasa ngetem di Citayem, Bb, 28, berinisiatif mengantar. Menggunakan motor matic milik Py, teman mereka, keduanya meninggalkan tempat itu. Pasangan itu mampir ke tempat timer Citayem lalu kembali pergi. Pagi hari, Py kaget bertemu Bb karena di wajah pria berkulit gelap dengan rambut cepak itu terdapat luka bekas cakaran. Ia juga menanyakan Dwi. Semula, Bb mengaku luka didapat karena jatuh tetapi belakangan ia mengaku luka itu akibat cakaran Dwi yang melawan saat diajaknya berhubungan badan. Bb juga mengaku telah menghabisi Dwi.

PERANGAI BERUBAH
Ditemui usai dimintai keterangan di Polresta Depok, Sarwani menyebutkan perangai anak keduanya itu berubah sejak ia bercerai dengan ibu korban dua tahun lalu. “Anak saya jadi senang main dan susah diingatkan,” ungkap tukang parkir di Tebet, Jaksel, yang tak megetahui anaknya sudah bekerja di sebuah kafe ini. Bahkan, Dwi pun jarang sekolah hingga terpaksa keluar saat duduk di kelas 2 SMP.

Ia mengaku tinggal di Jakarta bersama anak bungsunya sedang anak sulung telah berkeluarga. Meski begitu, setiap Minggu ia selalu menjenguk Dwi. Hanya saja, Minggu (8/1) pagi, ada hal tak biasa. “Anak saya itu nggak ada di rumah, padahal biasanya saya selalu bertemu,” katanya.

Ditunggu-tunggu tak datang, Sarwani mulai gelisah. Ia kaget mendengar kabar ditemukannya gadis korban pembunuhan. Setelah melihat jenazah, ia meyakini mayat itu sebagai Dwi. “Saya hafal benar ada bekas luka di atas mata kaki kiri anak saya,” katanya. Hadis, sepupu korban, bergerak cepat. Ia langsung mencari teman-teman Dwi hingga diketahui adik sepupunya itu pada dinihari diantar Bb.

Mayat perempuan yang ditemukan di kebun pisang Kampung Mangga, Kelurahan Bojong, Pondok Terong, Depok, ternyata berinisial DY, 16 tahun. Dia dikenali keluarganya lewat luka di betis kanannya akibat knalpot.

“Saya mengenalinya karena ada luka knalpot di kaki kanannya. Mukanya juga, tapi samar karena memar,” kata Sarwani, 42 tahun, bapak kandung korban pada wartawan di Kepolisian Sektor Pancoran Mas, Senin, 9 Januari 2012.

Sarwani mengaku syok ketika polisi datang ke rumahnya di Citayam dan memberi tahu ada seorang perempuan yang tewas . Ia pun disuruh ke Rumah Sakit Sukanto Polri, Kramatjati, Jakarta Timur untuk mengenali jenazah tersebut. Setelah melihat ternyata benar. “Ya masih syok, mulai dari laporan polisi yang datang ke rumah,” katanya.

Menurut Sarwani, dia sudah punya firasat mengenai kematian anaknya tersebut. DY yang belum bekerja tidak pulang ke rumah selama dua hari. “Ya ada firasat. Selalu kepikiran, anak saya ini di mana,” katanya. Mayat gadis berusia 16 tahun tersebut ditemukan di bawah pohon pisang di sebuah kebun, di Gang Mangga, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu, 8 Januari 2011. Korban ditemukan dalam keadaan telanjang dengan memar di sekujur wajahnya.

DY, adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Juwanda Riswandi, 18 tahun, sedangkan adiknya, Rangga Saputra, 6 tahun. Sarwani mengetahui DY memang susah diatur sejak ia dan istrinya, Zainunah, 40 tahun, pisah ranjang pada 2006. “Namun ia enggak pernah ngeluh, kalau minta uang biasa,” katanya.

Sarwani sendiri memutuskan tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Sedangkan DY tinggal bersama neneknya di Jalan Ken Arok, Kampung Kelapa RT 05 RW 19, Rawa Panjang, Bojong Gede, Bogor.

Sarwani mengaku menyesal karena tidak mampu menjaga dan memberikan perhatian kepada putrinya itu. “Ini karena DY kurang perhatian. Dulu DY rajin mengaji,” ujarnya. “DY akan dimakamkan di Citayam.” Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika mengatakan bahwa korban pembunuhan di Depok, Dwi Julianti, sempat diantar oleh seorang kawan menggunakan motor pinjaman.

Menurut Helmy, orang yang mengantar Dwi inilah yang berada bersama korban sebelum ia ditemukan tewas terbunuh. “Dia meminjam motor dengan alasan hendak mengantar korban. Motor itu kemudian dikembalikan lagi ke pemiliknya,” kata Helmy saat ditemui di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Senin sore, 9 Januari 2012.

Seperti diberitakan sebelumnya, mayat Dwi Julianti, 16 tahun, ditemukan di bawah pohon pisang di sebuah kebun, di Gang Mangga, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu, 8 Januari 2011. Korban ditemukan dalam keadaan telanjang dengan memar di sekujur wajahnya.

Kepala Unit I Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Budi Hermanto mengatakan hasil autopsi menunjukkan Dwi tewas lantaran dipukul dengan benda tumpul di kepala. “Ada pendarahan di otak,” katanya.

Meski ditemukan dalam keadaan telanjang, polisi tak dapat memastikan apakah Dwi diperkosa terlebih dahulu sebelum tewas. “Di alat kelamin korban tidak ditemukan sperma,” kata Helmy. Lokasi ditemukannya mayat Dwi, kata Helmy, berdekatan dengan tempat Dwi bekerja. “Dia bekerja di kafe di sekitar Tempat Kejadian Perkara,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s