Dukun Cabul Divonis Sembilan Tahun Tak Bereaksi

BANDUNG, (PR).-
Hakim Bachtiar Sitompul, SH yang memimpin persidangan dan Jaksa Andi Armasari, SH, dibuat keheranan saat menyatakan vonis 9 tahun tetapi terdakwa Zae Mus (50) tidak memberikan reaksi. Terdakwa Zae Mus (50) hanya terdiam tanpa memberikan reaksi apapun karena tidak mendengar apa yang diungkapkan hakim.

Aksi diam yang dilakukan terdakwa dukun cabul dari Kamp. Ciseke Ds. Waluya Kec. Cicalengka, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bale Bandung (PN.BB), kemarin bukan sengaja dilakukan. Tetapi aksi diam dilakukan karena terdakwa mengalami gangguan pendengaran akibat aksi pemukulan warga saat terdakwa tertangkap.

Terhadap sikap terdakwa yang tampak kalem dan tidak bereaksi majelis hakim maupun jaksa penuntut umum (JPU) serta pengunjung dari pihak keluarga korban sempat merasa heran. Bahkan keheranan semakin bertambah saat hakim menanyakan tanggapan terdakwa terhadap vonis yang telah dijatuhkan terdakwa tetap diam bahkan terlihat melongo tanda tidak mengerti.

Melihat sikap terdakwa masih terdiam saat vonis dijatuhkan, majelis hakim yang diketuai Bachtiar Sitompul, SH, terpaksa mengulangi lagi perkataannya. “Apakah saudara mendengar apa yang saya katakan, apakah saudara menerima atau merasa keberatan terhadap vonis yang dijatuhkan hari ini,” ujar Bachtiar dengan nada suara meninggi.

Terhadap pengulangan pernyataan majelis hakim tersebut, tanpa banyak pertimbangan Zae langsung menyatakan menerima. Bahkan dirinya menyatakan merasa tidak berkeberatan menerima vonis 9 tahun dari tuntutan jaksa 12 tahun penjara.

Pernyataan terdakwa menerima hukuman 9 tahun dipotong masa tahanan disambut majelis hakim dengan mengetukan palunya. “Bila kamu benar-benar menerima silakan kamu jalani hukuman dengan sebaik-baiknya semoga dengan hukuman tersebut kamu menjadi jera,” ujar Bachtiar mengakhiri persidangan.

Hukuman yang dikenai terhadap terdakwa Zae Mus, merupakan buah dari perbuatan terdakwa yang mengakui dirinya sebagai paranormal. Dengan kepiawaiannya terdakwa mengakui dapat menghilangkan kesialan dan memudahkan jodoh serta melipatgandakan uang titipan pasiennya.

Namun dalam kenyataannya, dalam menjalankan prakteknya terdakwa bukannya mengobati pasien malah mencabulinya. Bahkan dua orang pasiennya diperlakukan layaknya sebagai istri.

Sebagaimana dalam dakwaan jaksa Andi Armasari SH, aksi perdukunan yang dilakukan terhadap Ita (22) dan Noni (19) (bukan nama sebenarnya) dilakukan Sabtu (14/7) lalu. Dengan dalih akan diberi ilmu agar cepat mendapat jodoh terdakwa memperlakukan keduanya seperti pada istrinya.

Perbuatan yang dilakukan pada tengah malam tersebut sebelumnya diawali dengan mandi kembang. Pada saat memandikan keduanya, terdakwa berdalih bahwa pada bibir dan alat kemaluan korban terdapat jarum yang menghalangi keberuntungan dan jodoh, untuk itu harus dicabut.

Cara mencabut jarum tersebut menurut terdakwa harus dilakukan dengan membaca beberapa surat yang terdapat dalam Alquran. Setelah itu pencabutan jarum dilakukan dengan menyatukan raga dirinya dengan korban.

Baik Ita maupun Noni mengikuti apa yang dianjurkan oleh terdakwa, bahkan saat terdakwa menyetubuhinya. Kedua korban baru menyadari bahwa dirinya telah tertipu setelah beberapa minggu keduannya tidak mengalami perubahan nasib maupun jodoh.

Lain lagi dengan yang dialami oleh korban Ira (24) dan Nur (26) (bukan nama sebenarnya) keduanya menitipkan uang untuk dilipatgandakan. Keduanya merasa percaya karena mendengar kabar bahwa terdakwa dikenal sebagai dukun yang mampu mengubah daun sirih menjadi uang Rp 20 ribuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s