Perampok Minimarket Jakarta Ternyata Psikopat Pasangan Kekasih Seperti Bonnie and Clyde

Tersangka perampokan minimarket PAT alias P (25) dan RAP alias R (25) punya alasan sendiri kenapa nekat berbuat tindak kejahatan. PAT dan RAP mengaku berasal dari keluarga bermasalah (broken home) lalu hidup sendiri di jalanan dan terlalu malas untuk kuliah karena terlalu senang nyabu.

PAT mengaku setelah kedua orangtuanya bercerai, ia tinggal berpindah-pindah. Terkadang ikut Ayahnya di Padang atau ikut Ibunya di Medan. Sampai akhirnya tahun 2009, PAT memutuskan pergi dari kedua orangtuanya dan hijrah ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, PAT langsung bergaul di Kampung Ambon, Jakarta Pusat. Di Kampung Ambon inilah, PAT bertemu dengan tersangka lainnya RAP dan MA alias L. PAT pun memulai mencari kerja sebagai penimbang sabu. Sampai akhirnya merampok minimarket bersama RAP dan pacarnya MA.

“Kerja nimbang sabu belum mencukupi. Kosan saja Rp 800 ribu sebulan, mau pindah ke kosan yang murah … gengsi. Makan kami (dengan MA) berdua Rp 50 ribu sehari. Putus asa cari kerja di Jakarta,” akunya.

Serupa seperti PAT. RAP juga mengaku berasal dari keluarga broken. Kedua orangtua RAP bercerai saat usianya 4 tahun. Ia pun lantas dititipin orangtuanya tinggal di rumah tantenya di Jakarta. RAP pun hijrah dari Surabaya. Sampai di tingkat SMP, RAP kabur dari rumah tantenya.

“Ya hidup sendiri di jalanan. Sampai ketemu sama pacar yang mau bayarin biaya hidup,” katanya.

Pacar RAP lantas membiayai hidupnya hingga kuliah. RAP pun kembali ke Surabaya dan dibiayai kuliah oleh pacarnya di sebuah perguruan swasta di Surabaya. Namun kuliah RAP tak sampai selesai.

“Drop out. Terus putus dan pacaran sama yang lain,” jelasnya.

Sebelumnya Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Angesta Romano Yoyol memerintahkan anggotanya untuk menangkap komplotan perampokan minimarket yang beberapa minggu terakhir sudah meresahkan masyarakat. Dengan dipimpin AKBP Hengki, tim penyidik akhirnya membekuk 4 tersangka.

Keempatnya ditangkap di tempat terpisah. PAT ditangkap pada Senin (16/1) pukul 09.00 WIB di Kampung Ambon. Dari keterangan PAT, pukul 12.30 WIB, tersangka MA alias L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berselang 30 menit, pukul 13.00 WIB, tersangka TA alias T dibekuk. Terakhir, tersangka RAP ditangkap pukul 19.30 WIB saat hendak masuk ke Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Pasangan kekasih PAT alias P (25) dan MA alias L (23) yang merampok minimarket di kawasan Jakarta, ternyata kecanduan narkoba. Begitu juga dengan tersangka lainnya RAP alias R (25), ditengarai terkait dengan jaringan narkotika.

“P dan L mereka kecanduan narkotika. Rata-rata semuanya kecanduan narkotika,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan, PAT dan tersangka TA alias T bekerja di Kampung Ambon sebagai penimbang sabu. “Dia suka nimbang-nimbang narkoba,” kata Yoyol. Sementara menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi, tersangka P ditangkap di Kampung Narkoba, Jakarta Barat. “P dan L memang kerjanya di tempat narkoba, tapi ini masih kita dalami,” ujar Hengki.

Bekerja di sebuah event organizer (EO) membuat tersangka perampokan minimarket, RAP alias R (25) masih belum bisa memenuhi kebutuhannya. Apalagi RAP punya utang sebesar Rp 7,5 juta juga di Pegadaian. RAP pun akhirnya mengaku merampok minimarket.

“Saya kerja di EO. Tapi kan kerja di EO nggak rutin dapat penghasilan. Ada utang yang harus dibayar Rp 7,5 juta. Jadi ya butuh uang untuk nutupi utang meskipun lebih sering buat foya-foya sambil nyabu,” ujar RAP .

Menurut RAP, pertama kali ia merampok minimarket yaitu minimarket di Circle-K Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Kelapa Gading, RAP beraksi bersama PAT alias T (25). “Pertama di Kelapa Gading. Awalnya jalan-jalan. Terus sampai di Kelapa Gading lagi ramai tempatnya (minimarketnya). Terus balik lagi sudah sepi,” jelasnya.

Saat beraksi di Kelapa Gading, pacar RAP, IA juga ikut. Namun RAP mengaku pacarnya tidak tahu menahu mengenai aksinya. Saat aksi berlangsung, IA sedang tidur di dalam mobil. “Dia sebenarnya nggak tahu. Dia tidur. Pas sudah pulang baru saya bangunin dia,” ungkapnya. Sementara itu Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Hengki Haryadi mengatakan komplotan ini sudah beraksi setahun terakhir. Motifnya berawal dari uji nyali alias suka mencoba-coba.

Minimarket yang sepi dan tidak memasang Circuit Closed Television (CCTV) menjadi sasaran empuk komplotan perampok, PAT cs. Mereka mensurvei minimarket sebelum beraksi.

“Mereka mengincar minimarket yang sepi, nggak ada satpam dan CCTV-nya,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan kawanan ini melakukan survei lebih dulu ke lokasi sasaran. Survei dilakukan dalam waktu yang singkat. “Hari itu survei, hari itu juga mereka melancarkan aksinya,” ujar Yoyol.

Dalam aksinya, kata Yoyol, masing-masing tersangka memiliki peran yang berbeda. Tersangka P yang merupakan otak perampokan dan tersangka R, bertugas menodongkan senjata airsoft gun.

“Yang lainnya menunggu di dalam mobil atau motor,” imbuhnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi menambahkan, tersangka L bertugas sebagai ‘pengepul’ dana hasil kejahatan.

“Dia sempat SMS pacarnya ‘masa cuma segini hasil ngerampok’,” kata Hengki.

Hengki mengatakan kendaraan operasional yang dibawa tersangka yakni motor dan mobil.

“Kadang pakai motor, kadang pakai mobil. Mobil punya tersangka P,” imbuh Hengki.

Setelah datang ke lokasi, dua tersangka yakni P dan R menodongkan senjata airsoft gun ke kasir. Mereka lalu menggasak uang yang ada di meja kasir, juga beberapa barang lain seperti cokelat, susu dan lain-lain.

“Mereka kadang menggunakan masker. Kalau pas bawa motor, mereka masuk ke minimarket menggunakan helm,” lanjutnya.

Usai merampok, kawanan ini lalu membagi-bagikan uang hasil kejahatannya. Rata-rata, uang hasil kejahatan digunakan untuk foya-foya.

Adapun, tersangka sudah melakukan 9 kali perampokan di 9 minimarket berbeda di kawasan DKI Jakarta. Selama aksi itu, mereka telah mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta lebih.

Empat dari lima perampok minimarket yang selama sepekan ini telah meresahkan warga dibekuk. Empat tersangka yakni tiga laki-laki berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta seorang perempuan berinisial MA alias L, yang juga kekasih tersangka P.

Salah satu tersangka, RAP alias R mengaku merampok minimarket karena alasan desakan kebutuhan ekonomi. Padahal RAP sendiri bekerja sebagai koordinasi sebuah event organizer (EO).

“R malah bekerja sebagai koordinator event organizer (EO),” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Jakata Pusat, AKBP Hengki Haryadi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Menurut Hengki, RAP berasal dari keluarga mampu. Begitu juga dengan PAT. Sedangkan tersangka MA, TA, dan IA yang masih buron masih belum jelas keterlibatan mereka ikut dalam aksi perampokan ini.

“Kalau PAT dan MA alias L, mereka baru pulang liburan di Bali terus kehabisan uang, lalu muncul ide merampok. Yang RAP alias R, IA dan TA alias T, belum jelas,” ujarnya.

Seperti diketahui, polisi menangkap empat dari lima pelaku perampokan minimarket di kawasan Jakarta. Tiga tersangka yakni pria berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta wanita berinisial MA alias L.

“Tersangka I (perempuan) masih dikejar,” imbuhnya.

Tersangka P ditangkap di Jalan Berlian, Kampung Ambon, Jakarta Barat pada Senin (16/1). Dari keterangan P, polisi berhasil membekuk tersangka T di Jl Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Barat, lalu tersangka R yang ditangkap di Plaza Indonesia dan tersangka L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kawanan ini, setidaknya telah melakukan perampokan di 9 lokasi berbeda di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sasaran mereka adalah minimarket.

Rini Supriyatini Jadi Korban Pencurian Di Gerai ATM di Mall Kelapa Gading

Rini Supriyatini (26) panik saat kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) miliknya tersangkut di mesin. Ia kehilangan Rp 1,1 juta setelah ditolong oleh 4 orang yang pura-pura membantunya.

“Pelakunya ada 4 orang. Tapi, yang tertangkap baru 3. Satu tersangka lagi melarikan diri,” kata Kapolsek Kelapa Gading Kompol Donny Adityawarman kepada detikcom, Selasa (17/1/2012).

Keempat pelaku yakni dua perempuan Nad (22) dan AW (22) serta dua pria HW (36) dan Su. “Su belum tertangkap,” kata Donny.

Sementara itu, Kepala Unit Reskrim Polsek Kelapa Gading AKP Agung Yudha menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Jumat 13 Januari 2012 sekitar pukul 17.10 WIB.

Saat itu, kata Agung, Rini mendatangi gerai ATM di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara.

“Korban bertransaksi di salah satu mesin ATM. Tapi tiba-tiba, kartu ATM dia tersangkut di mesin,” ujar Agung.

Di saat bersamaan, keempat pelaku yang turut antre berpura-pura hendak melakukan transaksi. Mengetahui kartu ATM Rini tersangkut, tersangka perempuan AW dan Nad kemudian berpura-pura membantu Rini.

“Dua tersangka perempuan ini berpura-pura mengutak-atik mesin ATM,” katanya.

Setelah itu, tersangka HW juga berpura-pura ikut membantu. HW kemudian mencongkel kartu ATM korban yang tersangkut. Setelah kartu ATM keluar, tersangka AW dan Nad membawa korban ke mesin ATM di sebelahnya.

“Lalu dua tersangka perempuan ini kemudian meminta PIN (personal identification number) kartu ATM korban,” ujar Agung.

Dengan leluasa, para tersangka menarik uang tunai melalui kartu ATM Rini sebanyak dua kali dengan masing-masing jumlah uang Rp 800 ribu dan Rp 300 ribu. Setelah berhasil menarik uang korban, para pelaku lalu meninggalkan korban dan melarikan diri.

Korban yang bingung dengan situasi itu sempat terdiam. Beberapa saat kemudian, dia baru menyadari kalau dirinya sudah menjadi korban pecurian.

“Korban lalu berteriak sehingga didengar petugas keamanan mal dan tiga pelaku berhasil ditangkap, sementara satu lagi kabur,” jelasnya.

Petugas sekuriti mal lalu menyerahkan ketiga pelaku ke Mapolsek Kelapa Gading. Dalam pemeriksaan, tersangka mengaku baru pertama kali melakukan aksi kejahatan tersebut.

“Otak pencuriannya adalah Su. Dia juga yang menaruh batangan korek di mesin ATM agar kartu tersangkut. Saat kejadian, dia hanya mengawasi situasi,” katanya.

Agung menambahkan, pihaknya masih mendalami kasus tersebut. “Kalau dilihat dari cara-caranya, sepertinya mereka sudah ahli. Tapi pengakuannya baru sekali. Ini masih kita dalami lagi,” papar Agung.

Dari tersangka, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp 1,1 juta, gergaji besi kecil dan potongan batang korek. Ketiga tersangka dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian.

Kisah Dua Cinta Segitiga Bermula Dari Facebook Yang Berakhir Di Penjara Karena BH dan Celana Dalam

Kisah ini berawal dari Facebook menyusur ke Bra dan Celana Dalam. Kisah bak Sinetron ini, tidak berakhir happy ending tapi sebaliknya malah di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Bagaimanakah kisah percintaan pelaut dan PNS ini, yang dibumbui cinta segitiga ini?

Rasa kesepian yang mendera Samsu Alam (39) karena jauh dari istri yang tinggal di Palopo, Sulawesi Selatan, membuatnya nekat menjalin cinta dengan wanita lain di Jakarta.

Wanita yang dipacarinya itu adalah Dede Juwitawati, seorang PNS di Ciracas Jakarta Timur. Samsu berkenalan dengan Dede lewat jejaring sosial facebook pada April 2011.

Gayung bersambut, Samsu dan Juwita bertemu 5 Juni 2011. Juwita ditemani oleh kedua orangtuanya saat menemui Samsu. Status Samsu saat itu masih seorang suami dan beranak empat, sedangkan Juwita adalah janda beranak dua dan tinggal di Depok.

Asmara yang meledak-ledak itu membuat hubungan Samsu dan Juwita makin lengket. Keduanya pun sepakat tinggal serumah layaknya suami istri dengan mengontrak rumah di Tanjungpriok, Jakarta Utara. Bahkan, Dede mengajak dua anaknya yang masih kecil tinggal dengan mereka. Agustus 2011 mereka akhirnya pindah mengontrak rumah di Ciracas, Jakarta Timur.

Layaknya suami istri dalam sebuah keluarga, pertengkaran juga mewarnai ‘rumah tangga’ mereka. Dalam suatu pertengkaran, Samsu menampar Juwita, yang berujung penahanan terhadap Samsu di Polsek Ciracas pada 8 September 2011. Pelaut itu sempat ditahan selama 15 hari.

Sejak keluar dari tahanan pada 26 September 2011 Samsu memutuskan untuk pisah dengan Juwita. Lalu ia mengemasi barang dan memilih untuk tinggal di rumah iparnya di Tanjungpriok. Setelah itu beberapa kali Samsu mendatangi Juwita untuk membicarakan hubungan mereka, namun gagal.

Pada 16 Oktober 2011, Samsu mendapat panggilan melaut. Dia lantas berkemas dan bersiap-siap untuk melaut. Tak disangka ketika mengemasi barang bawaannya, terselip celana dalam dan BH milik Juwita.

Mengetahui hal itu, Samsu menghubungi Juwita dengan maksud ingin mengembalikan celana dalam dan BH itu. Akhirnya Samsu memutuskan mendatangi kontrakan mantan kekasih gelapnya itu di Ciracas. “Sekaligus membicarakan rencananya untuk melaut,” kata Regen.

Ketika mendatangi kontrakan di Ciracas, ia tidak mendapati Juwita. Lalu dia menunggu di warung dekat kontrakan. Tak lama menunggu di sana, Samsu didatangi oleh dua orang polisi yang salah satunya adalah perwira menengah dari Polsek Ciracas untuk menangkapnya. Samsu ditangkap dengan tuduhan melakukan pencurian atas laporan dari Juwita.

Kemudian Samsu Si pelaut kapal tanker milik perusahaan Korea Selatan diborgol dan ketika sampai di Polsek Ciracas, tas digeledah dan ditemukan satu buah celana dalam wanita dan satu buah bra. Hingga kini, Samsu meringkuk di Rutan Cipinang.

Dalam persidangan perdananya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (10/1/2012), Samsu terlihat tenang dan percaya diri. Dengan kemeja putih dan mengenakan kopiah putih, Samsu dengan sigap menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Herlina Manurung.

Samsu didampingi empat orang tim pengacara dari LBH Mawar Sharon. Bahkan Pembina LBH Mawar Sharon, Hotma Sitompul, pengacara top papan atas, duduk di kursi pengacara mendampingi Samsu.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum, Efni Noviza Wallad, Samsu dijerat Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Menurut JPU kerugian Dede, atas bra dan celana dalam itu senilai Rp 550.000.
Namun, tim pengacara Samsu membantah dakwaan jaksa tersebut dalam nota keberatannya.

Menurut tim pengacara, kliennya tidak melakukan pencurian yang dituduhkan. “Terdakwa tidak pernah melakukan perbuatan mencuri sepasang pakaian dalam tersebut,melainkan hanya sepasang pakaian dalam pelapor yang terselip atau terbawa ke dalam tas terdakwa,” kata Hotma Sitompul, pengacara Samsu.

Regen Silalahi, pengacara Samsu lainnya, menduga ada motif cinta segitiga antara Samsu, Dede dan salah seorang oknum perwira anggota polisi yang menangkap Samsu.

Suasana sidang berjalan riuh. Para pengunjung sidang tidak kuasa menahan geli saat jaksa membacakan celana dalam atau BH. Tiap kali dua pakaian dalam itu disebut, pengunjung sidang tersenyum dan berbisik-bisik.

Ketua Majelis Hakim Herlina Manurung, akhirnya memutuskan sidang akan dilanjutkan pada Selasa (17/1/2012) depan, dengan agenda mendengar tanggapan Jaksa Penuntut Umum sekaligus putusan sela

Irfannes Firmansyah Alumni SMAN 45 Berhasil Meringkus 3 Pencopet Di Atrium Senen

enangkapan terhadap komplotan pencopet di Atrium Senen, ternyata dilakukan Irfannes, alumni SMAN 45 yang tengah berencana untuk mendaftar Bintara Polri tahun 2012 ini.

Irfannes mengaku, keluar dari gerai J-CO sekitar pukul 15.00. Saat itulah, ia merasa ada orang yang terus mengikutinya dari belakang, lalu mencoba membuka resleting tas punggungnya. “Saya rasa, tetapi saya berlagak mengencangkan tas, dan sengaja mendiamkan tas tetap di belakang, sehingga pelaku menjauh,” kata Irfannes kepada Warta Kota.

Lalu, Irfannes pun terus berjalan dan sengaja mengambil jalan yang salah, yakni mengarah ke parkiran mobil. Menurut Irfannes, itu dilakukan agar ia memastikan bahwa lelaki yang mengikutinya benar pencopet. Rupanya, lelaki itu terus mengikutinya, bahkan ketika ia berputar ke parkiran motor, lelaki itu tetap mengikutinya.

“Dari situ saya sudah curiga dan makin yakin, tetapi saya belum berani teriak, ” kata Irfannes kepada Warta Kota, ditemui di Polsektro Senen, kemarin sore.

Lalu, ketika sampai di depan kedai Teko, Irfannes memperlambat jalannya dan lelaki yang di belakangnya juga melambat. “Semestinya, kalau dia mau mendahului saya juga bisa, tetapi ini justru melambat,” katanya lagi.

Makin yakin, Irfannes pun lekas memberitahukan ke seorang satpam, Mohamad Aziz yang berada di sekitar situ. Tak ambil pusing, pelaku yang diketahui bernama Sutikno itu pun lekas diringkus.

Sehabis diringkus, Sutikno pun mengaku ada tiga rekannya yang bersamanya. Dari situ, security Atrium Senen yang berbaju preman pun lekas bergerak mencari tiga pelaku lainnya.

Berbekal ponsel tersangka
Salah seorang security, Dawis, menjelaskan, penangkapan ketiga pelaku lainnya berbekal ponsel milik Sutikno. Dawis mengatakan, di ponsel itu ada nomor salah seorang rekan Sutikno, yakni Supratno yang di ponsel ditulis Sipar. Karena yakin berada belum jauh, Dawis dan dua rekannya pun berkeliling di bagian luar Atrium Senen sambil menelepon nomor ponsel Supratno.

Ternyata, di dekat Halte Busway Pasar Senen itulah, Dawis menemukan seseorang yang terus mengangkat telepon, ketika Dawis melakukan miss call ke nomor tersebut. Yakin itu Supratno, Dawis dan dua rekannya pun mendekati Supratno dan dua rekannya juga. Tak ambil pusing, ketiganya langsung diciduk, lalu diborgol, kemudian dibawa ke Polsektro Senen.

Komplotan copet, diringkus security Atrium Senen, Senin (9/1/2012 kemarin). Penangkapan itu, berawal dari tertangkapnya seorang pencopet oleh salah seorang pengunjung mall.

Mreka yang diringkus adalah Sutikno (35), Ridwan (29), Doro (16), dan Supratno. Selain meringkus pelaku, polisi juga menemukan pil koplo di saku celana Ridwan. Diringkus pertama kali, yakni Sutikno, baru ketiga rekannya yang lain.

Penangkapan itu, berawal ketika Irfannes Firmansyah (18) dan kekasihnya, Putri Nesya (18), baru pulang dari membeli dua pack donat J-CO di lantai dasar mall Atrium Senen. Keduanya, dibuntuti hingga parkiran, akhirnya korban lapor satpam dan berhasil meringkus pencopet tersebut. Sang pencopet ini pun mengaku ada tiga temanya, dari keterangan inilh akhirnya ketiga teman pelaku juga diringkus

Seorang Fotografer Profesional Memperkosa Dua Model Cantik Sekaligus Setelah Model Dibius Saat Casting Produk Minuman Ringan

Kebelet menjadi bintang iklan di televisi harus dibayar mahal dua gadis cantik yang berprofesi sebagai model ini. Satu gadis model dinodai dan satu lainnya dicabuli fotografer profesional di hotel berbintang di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, setelah sebelumnya dijanjikan menjadi bintang iklan minuman.

Tersangka HA, 30, dibekuk rekan-rekan korban setelah sebelumnya ‘diumpan’ model cantik untuk membuat iklan, Sabtu (7/1) malam. Ternyata, pria berwajah ganteng itu hendak melakukan aksinya setelah sempat memberi obat tidur kepada korban.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Budi Irawan MSi, didampingi Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) AKP Fitria Mega, menjelaskan peristiwa perkosaan pertama menimpa model cantik berinisial Ir, 24, pada Jumat (30/12) di hotel bintang empat.

Kepada korbannya, HA mengaku mendapat order dari salah satu perusahaan minuman terkenal untuk membuat iklan yang akan tayang di TV dan media cetak. “Korban menjadi tertarik sehingga mau bertemu dengan pelaku. Selain itu, pelaku juga dikenal sebagai fotografer hingga korban tidak curiga,” kata Budi Irawan.

Dengan dalih untuk casting, HA menyuruh Ir menemuinya di hotel yang bertarif sebesar Rp800 ribu permalam. Ir pun seorang diri menemui HA untuk melakukan pemotretan dan casting sebagai persyaratan menjadi bintang iklan.

Sekitar pukul 03.00, akhirnya HA mengabadikan foto dan gambar Ir di salah satu kamar hotel tersebut. “Salah satu foto di antaranya pelaku menyuruh korban memegang sebuah botol minuman. Alasannya, iklannya tentang minuman ringan,” tandas kasat.

Di saat mengambil gambar itu, pelaku menyuruh korban untuk meminum air yang ada dalam botol. Tanpa curiga, model cantik ini meminum air tersebut. Selang beberapa menit, korban teler berat. “Saat itulah korban dinodai pelaku,” tandas AKP Fitria Mega.

Menurut Fitria Mega, sebenarnya korban setengah sadar saat dinodai. Namun seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak dan merasakan kantuk yang luar biasa. Akhirnya pelaku dengan leluasa melakukan aksi bejatnya.

Setelah korban sadar, ia kaget mendapati dirinya dalam keadaan bugil dan ada bercak sperma. “Usai melakukan aksinya, pelaku mengirim transfer sejumlah uang kepada korban, dengan dalih uang pemotretan,” lanjut Fitria.

MODEL KEDUA DICABULI
Ir yang tidak terima dinodai akhirnya melaporkan kasus ini kepada kekasihnya dan sesama model lainnya. Mereka akhirnya membuat rencana untuk menjebak rekan Ir, berinisial An, Sabtu (7/1). Meski berat An menerima tantangan rekan-rekannya. Apalagi, mereka berjanji akan menggerebek hotel tempat HA menginap.

Sama seperti Ir, kepada An, fotografer mesum ini mengaku hendak mencari bintang iklan minuman. An pun disuruh nenggak minuman tersebut. Wanita cantik ini pun tak sadar hingga akhirnya ia dicabuli HA.

Saat An diperkosa, rekan pelaku menggerebek kamar hotel. Mereka sempat menghakimi HA, sebelum akhirnya diserahkan ke Polres Jakarta Selatan. “Kami masih mengembangkan kasus ini untuk mengetahui apakah ada korban lain yang dinodai pelaku,” cetus Kasat Reskrim Polres Jakarta Selata, AKBP Budi Irawan.

ABG Cantik Ditemukan Tewas Telanjang Di Kebun Pisang Pancoran Mas Depok Setelah Diantar Timer Supir Angkot

Kasus pembunungan Anak Baru Gede (ABG) di Depok menemui titik terang, Senin (9/1). Gadis jebolan kelas 2 SMP itu dihabisi usai kongkow di Cibinong, Kab. Bogor. Kini, polisi mencari-cari seorang timer angkutan umum yang mengantarnya pulang. Jasad yang ditemukan mengenaskan di kebun pisang di Pancoran Mas, Depok, itu adalah Dwi Julianti alias Debi, 16. Perempuan semata wayang dari tiga anak Sarwani, 42, dan Zaimunah, 40, itu sehari-hari tinggal bersama neneknya di Kp. Kelapa, Rawapanjang, Bojong Gede. Ia juga bekerja di sebuah kafe di Citayem.

Sebelumnya diberitakan (Pos Kota, 9/1), jasad Debi ditemukan Niman alias Ucok pada Minggu (8/1) sekitar Pk. 14:00 di kebun pisang Jl. Mangga, Pancoran Mas, Depok. Jenazah yang hanya mengenakan kaos lengan panjang bergaris hitam putih itu posisinya terlentang dengan kedua kaki merenggang. Bra, celana dalam, sepasang sandal merah bergambar kupu-kupu serta sandal putih bertulisan Hotel Puri Residence ditemukan tak jauh dari jasad yang wajahnya penuh luka itu.

Ayah korban, keluarga dan sejumlah teman korban dimintai keterangan polisi. Data yang dihimpun dari Polda Metro Jaya menyebutkan pada Sabtu (7/1) malam hingga dinihari, Dwi bersama teman pria dan wanitanya kongkow di Jalan Baru tak jauh dari Pemda Cibinong, Kab. Bogor. Sambil ngobrol, anak-anak muda itu juga menenggak minuman keras.

Sekitar Pk. 04:30, Dwi ingin pulang. Seorang timer angkutan umum yang biasa ngetem di Citayem, Bb, 28, berinisiatif mengantar. Menggunakan motor matic milik Py, teman mereka, keduanya meninggalkan tempat itu. Pasangan itu mampir ke tempat timer Citayem lalu kembali pergi. Pagi hari, Py kaget bertemu Bb karena di wajah pria berkulit gelap dengan rambut cepak itu terdapat luka bekas cakaran. Ia juga menanyakan Dwi. Semula, Bb mengaku luka didapat karena jatuh tetapi belakangan ia mengaku luka itu akibat cakaran Dwi yang melawan saat diajaknya berhubungan badan. Bb juga mengaku telah menghabisi Dwi.

PERANGAI BERUBAH
Ditemui usai dimintai keterangan di Polresta Depok, Sarwani menyebutkan perangai anak keduanya itu berubah sejak ia bercerai dengan ibu korban dua tahun lalu. “Anak saya jadi senang main dan susah diingatkan,” ungkap tukang parkir di Tebet, Jaksel, yang tak megetahui anaknya sudah bekerja di sebuah kafe ini. Bahkan, Dwi pun jarang sekolah hingga terpaksa keluar saat duduk di kelas 2 SMP.

Ia mengaku tinggal di Jakarta bersama anak bungsunya sedang anak sulung telah berkeluarga. Meski begitu, setiap Minggu ia selalu menjenguk Dwi. Hanya saja, Minggu (8/1) pagi, ada hal tak biasa. “Anak saya itu nggak ada di rumah, padahal biasanya saya selalu bertemu,” katanya.

Ditunggu-tunggu tak datang, Sarwani mulai gelisah. Ia kaget mendengar kabar ditemukannya gadis korban pembunuhan. Setelah melihat jenazah, ia meyakini mayat itu sebagai Dwi. “Saya hafal benar ada bekas luka di atas mata kaki kiri anak saya,” katanya. Hadis, sepupu korban, bergerak cepat. Ia langsung mencari teman-teman Dwi hingga diketahui adik sepupunya itu pada dinihari diantar Bb.

Mayat perempuan yang ditemukan di kebun pisang Kampung Mangga, Kelurahan Bojong, Pondok Terong, Depok, ternyata berinisial DY, 16 tahun. Dia dikenali keluarganya lewat luka di betis kanannya akibat knalpot.

“Saya mengenalinya karena ada luka knalpot di kaki kanannya. Mukanya juga, tapi samar karena memar,” kata Sarwani, 42 tahun, bapak kandung korban pada wartawan di Kepolisian Sektor Pancoran Mas, Senin, 9 Januari 2012.

Sarwani mengaku syok ketika polisi datang ke rumahnya di Citayam dan memberi tahu ada seorang perempuan yang tewas . Ia pun disuruh ke Rumah Sakit Sukanto Polri, Kramatjati, Jakarta Timur untuk mengenali jenazah tersebut. Setelah melihat ternyata benar. “Ya masih syok, mulai dari laporan polisi yang datang ke rumah,” katanya.

Menurut Sarwani, dia sudah punya firasat mengenai kematian anaknya tersebut. DY yang belum bekerja tidak pulang ke rumah selama dua hari. “Ya ada firasat. Selalu kepikiran, anak saya ini di mana,” katanya. Mayat gadis berusia 16 tahun tersebut ditemukan di bawah pohon pisang di sebuah kebun, di Gang Mangga, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu, 8 Januari 2011. Korban ditemukan dalam keadaan telanjang dengan memar di sekujur wajahnya.

DY, adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Juwanda Riswandi, 18 tahun, sedangkan adiknya, Rangga Saputra, 6 tahun. Sarwani mengetahui DY memang susah diatur sejak ia dan istrinya, Zainunah, 40 tahun, pisah ranjang pada 2006. “Namun ia enggak pernah ngeluh, kalau minta uang biasa,” katanya.

Sarwani sendiri memutuskan tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Sedangkan DY tinggal bersama neneknya di Jalan Ken Arok, Kampung Kelapa RT 05 RW 19, Rawa Panjang, Bojong Gede, Bogor.

Sarwani mengaku menyesal karena tidak mampu menjaga dan memberikan perhatian kepada putrinya itu. “Ini karena DY kurang perhatian. Dulu DY rajin mengaji,” ujarnya. “DY akan dimakamkan di Citayam.” Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika mengatakan bahwa korban pembunuhan di Depok, Dwi Julianti, sempat diantar oleh seorang kawan menggunakan motor pinjaman.

Menurut Helmy, orang yang mengantar Dwi inilah yang berada bersama korban sebelum ia ditemukan tewas terbunuh. “Dia meminjam motor dengan alasan hendak mengantar korban. Motor itu kemudian dikembalikan lagi ke pemiliknya,” kata Helmy saat ditemui di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Senin sore, 9 Januari 2012.

Seperti diberitakan sebelumnya, mayat Dwi Julianti, 16 tahun, ditemukan di bawah pohon pisang di sebuah kebun, di Gang Mangga, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu, 8 Januari 2011. Korban ditemukan dalam keadaan telanjang dengan memar di sekujur wajahnya.

Kepala Unit I Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Budi Hermanto mengatakan hasil autopsi menunjukkan Dwi tewas lantaran dipukul dengan benda tumpul di kepala. “Ada pendarahan di otak,” katanya.

Meski ditemukan dalam keadaan telanjang, polisi tak dapat memastikan apakah Dwi diperkosa terlebih dahulu sebelum tewas. “Di alat kelamin korban tidak ditemukan sperma,” kata Helmy. Lokasi ditemukannya mayat Dwi, kata Helmy, berdekatan dengan tempat Dwi bekerja. “Dia bekerja di kafe di sekitar Tempat Kejadian Perkara,” katanya.

Hasil Rekonstruksi Ros Diperkosa Lebih Dahulu Oleh Supir Angkot M26 Saad Sebelum Digilir Yang Lain

Dalam pra rekonstruksi yang digelar Polres Depok, timbul fakta baru. Tersangka Saad yang sebelumnya disebut-sebut hanya memegang tangan Ros dan tidak memperkosa, justru adalah orang yang lebih dulu memperkosa Ros. Hal itu ditunjukkan dalam pra rekonstruksi di Polres Depok, Jawa Barat, Sabtu (31/12/2011).

Kasus pemerkosaan ini berawal dari ketiga tersangka dan Aida berangkat dari kosan YBR alias Riko di Bekasi dengan menumpangi angkot M-26. Aida duduk di depan sebelah sopir. Sementara tersangka Saad sebagai sopir. Riko dan DR lalu masuk ke kabin belakang angkot.

Angkot lalu berputar-putar hingga ke Jl Raden Saleh, Depok. Saat di jalan inilah, Ros menyetop angkot ini. Ros berteriak dari menanyakan kepada sopir Saad apakah angkot ini mau ke Pasar Kemiri, Beji. Mendengar itu, Saad langsung mengiyakannya.

“Bang mau ke Pasar Kemiri nggak?” tanya Ros yang diperankan oleh seorang polwan.

“Ya bu. Naik saja,” jawab Saad.

Ros pun lantas masuk ke kabin belakang angkot dan duduk di pojok belakang kanan. Dengan kecepatan 40-50 Km/jam, angkot ini jalan. Saat di jalan antara Jl Raden Saleh dan Jl Margonda Raya Sektor III, angkot ini berhenti. Saad yang tadinya sebagai sopir turun dan masuk ke belakang. DR lantas menggantikan Saad menjadi sopir.

Tak lama angkot kembali berjalan, Saad tiba-tiba mendekap tubuh Ros. Riko lalu memgang kaki Ros, hingga Ros terjatuh dari tempat duduknya. Ros sempat berteriak dan meronta. Tapi Riko mengancam akan membunuh Ros dengan parang jika Ros berteriak lagi. DR lalu berteriak kepada Saad agar menutup mulut Ros dengan sapu tangan.

“Kasih sapu tangan,” ujar DR sambil melempar sapu tangan ke Saad. Mulut Ros pun ditutup dengan sapu tangan tersebut. Tubuh Ros lantas digerayangi Saad mulai dari payudara hingga ke bagian kemaluan Ros. Riko yang tadinya memegang tangan Ros, ikut mencopot celana dalam Ros.

Ros pun diperkosa terlebih dahulu oleh Saad. Saat pemerkosaan terjadi, angkot dalam keadaan jalan dengan alunan musik yang cukup kencang dinyalakan oleh DR dari depan. Ketika itu angkot tengah berada di Pasar Cibinong.Setelah Saad memperkosa Ros, Riko pun melanjutkan aksi bejat rekannya itu. Riko lalu memperkosa Ros.

Ketika pemerkosaan Ros terjadi, Aida sempat menolehkan kepalanya ke belakang. Aida yang melihat kejahatan tersebut mendengar suara teriakan samar-samar dari depan. Namun DR menekan kepala Aida ke bawah dan melarangnya untuk melihat ke arah kabin belakang angkot.

“Jangan lihat lu nggak ada apa-apa di belakang,” kata DR kepada Aida. Setelah itu, angkot lalu berjalan dari Pasar Cibinong dan masuk tol menuju Jakarta. Di pintu tol, Ros pun diturunkan. Ros yang sudah dalam kondisi tertekan, hanya diam saja.

Saat turun dari angkot, Riko bahkan sempat menonjok kepala bagian belakang Ros. Namun pukulan Riko tak mengenai kepala Ros karena tangan Saad tengah merangkul kepala Ros untuk menurunkannya dari angkot. Para tersangka lalu meninggalkan Ros dan berjalan menuju Cileungsi.

Tiga tersangka pemerkosa Ros diketahui berumur belasan tahun. Meski masih muda, ketiganya sudah berani melakukan aksi kejahatan yang cukup banyak dan besar. Ternyata setelah dites kejiwaan, ketiganya punya masa lalu yang suram.

“Kita sudah ketemu penyidik soal tes kejiwaan. Mereka ini adalah anak-anak bermasalah dalam keluarga yang kemudian hidup mencari duit di jalanan. Ya, seperti anak ayam kehilangan induk,” kata pengacara tiga tersangka, Achmad Sumarjoko, saat ditemui di Mapolres Depok, Jawa Barat, Selasa (3/1/2012).

Sumarjoko mengatakan YBR (17), DR (17) dan MDS (19) adalah anak-anak dari keluarga miskin yang sejak kecil sudah hidup di jalanan. YBR alias Riko adalah yatim-piatu yang sejak usia 12 tahun sudah ditinggal meninggal oleh orang tuanya di Manado. Sedangkan MDS adalah anak yatim yang sejak usia 15 tahun hijrah dari Medan ke Jakarta.

“Mereka berdua ini hanya sempat bersekolah tingkat SLTP namun tidak tamat. Sedangkan DR remaja di Pondok Kopi di Jakarta Timur yang hanya lulusan sekolah dasar,” jelasnya. Sumarjoko menilai pergaulan kelompok anak-anak seperti Riko cs ini rentan mendapat pengaruh buruk dari lingkungan ‘dunia hitam’. “Mereka gampang terpengaruh, sangat setia dengan kesetiakawanan kelompok walau itu salah. Merampok bersama dan berfoya-foya menikmati hasil rampokan bersama-sama pula,” ucapnya.

Sumarjoko menceritakan kasus pemerkosaan terhadap Ros awalnya karena komplotan ini tidak dapat hasil rampasan motor pada malam kejadian. Sebelum melakukan pemerkosaan, komplotan Riko sudah menyisir kawasan Bekasi Selatan dan Bogor. Namun tak satu kendaraan bermotor pun yang mereka dapat.

“Akhirnya mereka masuk ke wilayah Kota Depok melalui Kota Cibinong dan berjumpa dengan Ros yang sedang menunggu angkot. Hingga pemerkosaan terjadi,” jelasnya. Selanjutnya, tambah Sumarjoko, ketiga tersangka dan dua tersangka lagi yang termasuk komplotan curanmor Riko nantinya akan disidangkan di pengadilan berbeda.

“Sesuai dengan locus delicti tindak kejahatan mereka. Tetapi dalam hukum kita dikenal untuk tindakan hukum yang banyak maka yang dituntut pada tindakan hukum yang terberat yang dilakukan saja,” ungkapnya.

9 Sentaja Api, Ratusan Peluru Serta Narkoba Senilai 4 Milyar Ditemukan dalam Tabung Gas Elpiji

Aparat Polresta Bekasi menerima laporan dari sebuah perusahaan reparasi tabung gas yang menemukan sembilan pucuk senjata api berbagai merk beserta ratusan butir peluru dalam tabung gas elpiji ukuran 15 kilogram, Selasa (3/1/2012) lalu.
Dari dalam tabung gas yang sudah dimodifikasi itu, juga ditemukan tiga bungkusan plastik berisi amphetamine seberat 224,5 gram senilai sekitar Rp 4 miliar.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharudin Jafar dalam jumpa pers di Mapolresta Bekasi mengatakan hingga kemarin petang sudah meminta keterangan dari enam orang saksi terkait temuan tersebut. “Sampai dini hari tadi, sudah diperiksa enam orang saksi. Masih akan dikembangkan, darimana asalnya,” ungkapnya didampingi Kapolresta Bekasi, Kombes Wahyu Hadiningrat, kemarin.

Kapolres mengatakan, pihaknya menerima laporan dari Polsek Tarumajaya bahwa perusahaan reparasi tabung gas, PT Bejana Agung Wajatama yang beralamat di Kampung Pegadungan RT4/10 Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi menerima 200 tabung gas dari PT Eramina Kencana di Cakung, Jakarta Timur.

“Ratusan tabung gas itu rencananya akan direparasi. Tapi saat dipindahkan, ada karyawan yang curiga salah satu tabung gas itu ternyata lebih berat dari yang lain. Saat dibuka klep atasnya, dari dalam tabung gas itu ternyata keluar dua butir peluru,” terangnya, kemarin.

Kapolresta Bekasi, Kombes Wahyu Hadiningrat menjelaskan penemuan sembilan senjata api dan ratusan peluru di dalam tabung gas saat akan direparasi.
Sebanyak, 200 unit tabung gas elpiji kosong itu diangkut menggunakan truk Isuzu Elf 135 PS bernomor polisi B9319SX oleh Sukirman (55). Sesampainya di PT Bejana Agung Wajatama, Tarumajaya, ratusan tabung gas itu diturunkan oleh karyawan PT Bejana Agung Wajatama, Husdi (31) untuk dilakukan pengecatan ulang.

“Husdi menemukan salah satu tabung gas elpiji itu melebihi kapasitas, namun saat itu dirinya tidak curiga karena mengira tabung itu berisi gas. Berat tabung itu 26 kilogram, padahal berat normal tabung gas elpiji itu 15 kilogram,” sambung Kapolres.

Oleh karyawan lainnya, Dalim (42), tabung gas itu dibuka di bagian ujung klepnya. “Ternyata saat dituang, yang keluar bukannya air, melainkan dua butir peluru kaliber 9 milimeter. Dia kemudian melaporkan temuan itu ke sekuriti perusahaan. Laporan itu diteruskan ke Polsekta Tarumajaya, dan diteruskan ke Polresta Bekasi. Kami kemudian menghubungi Tim Gegana Polda Metro Jaya untuk membongkar tabung gas itu,” bebernya.

Saat dibongkar, ternyata tabung gas elpiji itu sudah dimodifikasi di bagian pantatnya. Bagian tutup paling bawah sudah dilas dengan besi batangan berulir sehingga bisa dibuka dengan cara diputar. Dari dalam tabung gas itulah polisi menemukan 9 senjata api berbagai jenis, 161 butir peluru, sembilan magazen berbagai jenis, serta tiga bungkusan plastik amphetamine seberat 224,5 gram senilai sekitar Rp 4 miliar.

Penyidik sudah memeriksa enam orang saksi, yaitu tiga karyawan PT Bejana Agung Wajatama, dan tiga orang karyawan PT Eramina Kencana. “Mereka masih berstatus sebagai saksi, belum ada yang menjadi tersangka. Sampai saat ini kami sedang selidiki darimana senjata api dan amphetamine itu berasal,” kata Kapolres.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s