Pesan Kuat dari China Menyambut SBY

Beijing “Sudah jelas bahwa kami transparan, kami ingin menjadi teman baik, kami ingin menjadi mitra, sahabat, kami ingin menjadi saudara Indonesia”.

Pesan penuh percaya diri itu dituturkan oleh Deputi Dirjen Urusan Asia Kementerian Luar Negeri China, Hong Ziang, di kantornya yang megah di Beijing, Selasa (13/3/2012). Senyumnya mengembang lebar, seolah mewakili open policy yang dicanangkan oleh Deng Xiaping (1978) yang menangguk sukses besar.

“Saya optimistis pada hubungan China-Indonesia ke depan,” imbuh Hong.

Pesan kuat serupa ditegaskan oleh atasan Hong, Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Asia Fu Ying. “Kami melihat Indonesia sebagai tetangga yang baik, teman yang baik, saudara dan mitra yang baik,” kata perempuan ayu tersebut dalam kesempatan terpisah kepada wartawan Indonesia dari detikcom, Kompas, LKBN Antara, The Jakarta Post, dan TVRI.

Pesan kuat dari negeri yang mampu menyulap diri dari negara ortodoks menjadi negara pasar modern dalam tempo tiga dekade ini sangatlah penting. Pesan itu menandakan China akan berkembang seiring dengan Indonesia, tidak akan meninggalkan Indonesia berjalan sendiri.

“China gembira dengan situasi ekonomi Indonesia dan kami akan meningkatkan kerjasama,” imbuh Fu.

Dukungan dari China tentulah perlu, karena negeri itu adalah negeri ekonomi kedua terkuat di dunia setelah AS (menggeser Jepang yang kini nomor 3, disusul Jerman, Prancis, Brasil, lalu Inggris) dan negeri pengekspor nomor satu di dunia. Dua kali krisis dunia, tahun 1997 dan 2007, tak berdampak signifikan pada China.

Kekuatan ekonomi China berjalan seirama dengan kekuatan politiknya di dunia internasional. Bersama Rusia, China membuat dominasi Barat kedodoran. Kebijakannya yang berani beda terkait krisis Iran, Suriah, dan isu Timur Tengah lainnya membuatnya menjadi negara yang disegani.

“Kami mempunyai prinsip-prinsip,” kata Liu Weimin, Deputi Dirjen Informasi Kemlu, terkait dengan sikap berani tampil beda China.

Pesan penuh persahabatan dari negeri Panda ini mengemuka seiring dengan rencana kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke China pada 22-24 Maret mendatang. China menilai kunjungan itu sangat penting.

“Kunjungan kenegaraan Presiden Yudhoyono sangat penting dan akan memberi dorongan kuat pada hubungan antara China dan Indonesia,” ujar Fu.

SBY nantinya akan bertukar pandangan dengan Presiden Hu Jintao tentang segala aspek, termasuk menandatangani sejumlah kontrak.

Di abad modern, Indonesia mulai menjalin hubungan diplomatik dengan China pada 13 April 1950. Hubungan ini dijalin setelah setahun Partai Komunis China mendirikan RRC. Indonesia tercatat sebagai negara pertama yang mengakui China baru di bawah pemerintahan komunis. Hubungan kemudian membeku pada 30 Oktober 1967 menyusul peristiwa 30 September 1965.

Hubungan kedua negara mulai mencair pada tahun 80-an dan mencapai puncaknya pada April tahun 2005 dengan ditekennya deklarrasi kemitraan strategis Indonesia-China oleh Presiden SBY dan Presiden Hu Jintao. Deklarasi ini bersambung dengan penandatanganan rencana aksi (plan of action) pada 21 Januari 2010.

“Sejak penandatangan kerjasama tahun 2005, hubungan perdagangan kedua negara melonjak signifikan,” kata Fu. Pada tahun 2011, nilai perdagangan bilateral meningkat 42 persen atau sekitar US$ 60 miliar.

“Biarlah masa silam berlalu, kita memandang masa depan, ” ujar Hong, masih dengan senyum lebarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s