Kisah Kakek Buta Pemanjat Kelapa

 

Demi menyambung hidup, seorang pria tunanetra di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi pemanjat kelapa. Dari hasil memanjat kelapa ini, Rampeng (62) mampu menghidupi dua anak serta empat cucunya.
Warga dusun Dualoronge, Desa Panyili, Kecamatan Duaboccoe, Kabupaten Bone, ini dikenal sebagai pemanjat kelapa ulung di kampungnya yang memang merupakan daerah penghasil kelapa. Saat dikunjungi di rumahnya, Rabu (21/3/2012), Rampeng terlihat tengah bersiap menjalani rutinitas kerjanya.
Bermodalkan tali pengait, satu per satu pohon kelapa mulai dipanjatnya. Dalam sehari, Rampeng mampu memanjat 30 hingga 40 pohon kelapa dengan upah per pohon Rp 3.000 hingga Rp 4.000. Tergantung lebatnya buah kelapa yang dipetik.
Meski harus menyabung nyawa, Rampeng tetap kuat menjalani pekerjaannya. Malah, semakin tinggi pohon kelapa yang dipanjatnya, Rampeng mengaku makin menikmatinya. “Saya lebih suka kalau tinggi karena tidak ada semut. Dalam sehari saya bisa panjat 30 sampai 40 pohon,” ujar Rampeng.
Keteguhan Rampeng membuatnya terkenal hingga di luar kampungnya. Tak jarang Rampeng mendapat order untuk memetik kebun kelapa dari luar kampung. “Saya sengaja memang panggil dia karena memang dari dulu dia pemanjat kelapa dan kalau dia yang manjat bagus, tidak banyak neko-nekonya dan tuntutannya,” kata Asnawi, salah seorang pemilik kebun kelapa yang pagi ini memakai jasa Rampeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s